Profile

Wirokuto Batik

H.M Romi Oktabirawa

Cecek ora duwe ijasah bae biso mangan, Opo maneh menuso sing duwe akal…”

(Allahyarham H.Achmad Yahya,Pesindon,1994)

M.Romi Oktabirawa,lahir 30 oktober 1973,di Pekalongan dari pasangan H.M Rejeki dan Hj.Setyaningrum.Adalah generasi ke empat dari pengrajin batik dari kota di pesisir utara Jawa Tengah itu.Menceburkan diri dalam dunia batik sejak menyelesaikan studi di SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan di Pekalongan pada tahun 1992.Jebolan ilmu syari’ah di Universitas Al-Azhar Mesir ini menyunting Dwi Prihwanti(1995),putri H.M Dahlan,seorang pengusaha batik dari Wiradesa,Kabupaten Pekalongan.Kini dikarunia dua orang putra M.Wibi Satyanatagama dan M.Prayogi Satyanatanegara.

Belum lama memenangkan penghargaan dua penghargaan Seal of Excellence for Handicraft pada tahun 2006 dan 2007 dari Unesco Asia Pasifik yang berpusat di Bangkok dan Asosiasi Promosi dan Pengembangan Kerajinan ASEAN (AHPADA) untuk pareo batik sutra tenun ( 2006 ) dan pareo tenun batik 3 budaya. Pareo Tenun Batik pernah menyabet Kreasi Cipta Kriya Nusantara 2006 dari Dekranas untuk kategori Kriya Potensi Ekspor dan Kreasi Kriya Nusantara Terbaik.

Pria dengan banyak minat ini menyukai motor besar,mencintai satwa dan hobi dengan tanaman.Pergumulannya dengan ketiga kesukaan itu amat berpengaruh terhadap kreativitasnya.Seperti tercermin dalam pilihan ragam hias dan motif batik-batik Wirokuto.Jangan kaget jika pada tahun 1988 pernah menjadi terbaik III lomba tiru bunyi tingkat nasional yang diadakan oleh Museum Rekor Indonesia – Semarang.

Kini selain menjadi Ketua Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan,bendahara ASEPHI BPC Pekalongan juga giat di Kompartemen Penelitian dan Pengembangan KADIN Kabupaten Pekalongan. Terakhir bersama dengan kawan-kawan alumni Mesir menggagas pembentukan komunitas timur tengah.

Aktif sebagai pembicara seminar,di antaranya menjadi pembicara dalam Milad ke 50 tahun SMU Muhammadiyah I Pekalongan, membawakan makalah,”Batik Tidak Butuh Ijasah,Hanya Butuh Kreativitas dan Kesabaran.” Mempresentasikan film dokumenter besutannya,Enchantmen of Batik,bersamaan dengan paper,”On Going Handdrawn:Developing Northseacoast Batik Craftmanship & Regional Market” di 1st Art & Craft ASEAN Sacict Complex,Bangsai,Ayutthaya – Thailand.

Mbatik”…ngemban titik dan mbabate teko setitik, sabar subur telaten bakal panen adalah kata-kata yang terus dia tebarkan di banyak tempat,pada pelbagai kesempatan dan untuk semua kalangan.

Tonggak-tonggak Yang Menentukan

Saya memulai usaha dengan modal 6 juta. 8 januari 1996.Sebelumnya saya mengusung brand batik Haji putera.Pertama saya membuat kemeja sutra berukuran besar untuk konsumsi kalangan menengah ke atas.Seiring berjalannya waktu produk saya mulai dikenal.

Datang Prayudi,waktu itu salah satu desainer ternama ke workshop batik saya.Ada banyak kesepahaman maka mulailah fase baru dalam bisnis saya.Yaitu buruh makloon ( mbabar ),dengan konsekuensi produk batik saya diproteksi selama 4 tahun tidak boleh keluar ke pasar.Meski secara marketing dan permodalan saya diselamatkan.Tetapi bicara kreativitas produk saya merasa sedikit terpasung.Saya belajar menjaga amanat(trust) dan kedua saya harus negotiable,saya tidak bisa memaksakan idealisme saya tetapi berkolaborasi mencoba menerjemahkan kemauan dan kebutuhan si pemberi order.

Nek cara uripmu koyo kuwe,liyane wis do numpak motor mabur,kowe isik numpak becak,”

Ucapan papa saya itu melecut saya untuk merintis desain batik sendiri sekaligus memasarkannya dengan brand Wirokuto Batik(Batik Karya Orang Kota).Mengapa?

Karena saya dilahirkan di Pesindon,kota Pekalongan tetapi saya hidup di Kemplong,bagian kota dari Wiradesa.

Meski saya sadari dari Prayudi saya banyak belajar mengenai manajemen produksi.marketing dan mengenali fashion show,pameran dan apresiasi terhadap selfsalary(gaji diri sendiri).Biarpun semua itu perusahaan saya.

Saya mulai keliling ke– Jogja,Solo,Jakarta dan Bali– mencoba memasarkan batik dengan desain dan karya sendiri.Ternyata dengan tidak mengurangi idealisme saya,saya harus berkompromi dengan desain-desain yang dimaui pasar.Sekitar 4 tahun fase ini saya lakoni.Lambat laun produk saya mulai dilirik banyak pihak.Salah satunya buyer Jepang yang kemudian mengajak saya selama satu bulan untuk belajar seni pembuatan dan pewarnaan kimono,juga obi.

Pelajaran terbesar dari momentum ini adalah,”Kerajinan tangan(handmade) harus lebih bagus daripada hasil mesin.” Dari sini saya belajar menjaga mutu(product quality).

Alhamdulillah tahun 2003 Balai Besar Pengembangan Batik dan Kerajinan mengundang perusahaan saya untuk bertemu Ibu Rini Suwandi,Menteri perdagangan pada saat itu untuk merevitalisasi balai besar di Jogjakarta.Momentum ini mengajarkan saya untuk memahami lika-liku dunia birokrasi.Sebagai pengusaha,kata ibu Rini Suwandi,kita jangan melulu berpikir untung rugi,tetapi mesti peduli dengan keadaan sosial sebagai social benefit.Membangun brand dengan mengadakan banyak kegiatan sosial dan keilmuan.

Tahun 2005 saya diamanahi sebagai ketua festival batik oleh kawan-kawan dari Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan.Tugas yang sangat berat.Tetapi dengan semangat kebersamaan,malah saya berpikir jauh bagaimana untuk mengeksploitasi event itu sebagai city branding pekalongan,sekaligus branding batik itu sendiri.Maka lahirlah tema dari Pekalongan Membatik Dunia yang disimbolisasikan dengan membatik sepanjang 1147 m selama satu hari untuk memecahkan rekor The Quiness World of Record.Alhamdulillah surat elektronik tentang pengesahan event itu sudah kami terima.

Banyak hikmah yang bisa saya petik dari event itu.Di antaranya betapa penting menjaga hubungan baik dengan banyak pihak.Bahwa sebuah event budaya yang dikelola dengan spirit kebersamaan bisa punya magnitude yang sangat luas.Pada titik ini saya mulai mengenal urgensi public relation bagi sebuah organisasi,apalagi perusahaan.Utamanya citra dan penguatan brand perusahaan maupun brand produk.Tidak semata-mata iklan untuk menancapkan ke benak konsumen.Apalagi kalau kita mau masuk ke segmen menengah ke atas. Sinergi berbagai pihak dengan segala tarik ulurnya,adalah pelajaran tersendiri. Di samping itu saya juga rajin berpameran sebagai ajang promosi baik di dalam maupun luar negeri.

Kesempatan untuk melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya juga sempat saya berikan pada wanita usia lanjut pada saat kunjungan Paguyuban Wulan berkunjung ke rumah saya di awal tahun 2006 yang lalu. Sungguh memberikan semangat tersendiri melihat kemaun dan semangat wanita usia lanjut untuk dapat lebih mengerti batik baik secara filosofi dan proses pembuatan.

Medio 2007 Wirokuto Batik mendapat kunjungan dari SMA Unggulan jawa tengah. Dalam kesempatan itu pelajar – pelajar yang masih berjiwa muda sangat bersemangat mempelajari batik. Hal ini sangat mengembirakan bahwa batik juga digemari anak muda. Dan saya semakin bersemangat saat memberikan penjelasan kepada mereka.

Baru-baru ini salah satu produk batik saya,yaitu pareo batik tiga budaya memenang Seal of Excellence for Handicraft 2007 dari Unesco Asia Pasifik yang berpusat di Bangkok. Penghargaan ini tahun 2006 lalu juga saya peroleh untuk produk pareo batik. Seal Of Excellence merupakan program yang bertujuan untuk membuat standar mutu,meningkatkan kepercayaan internasional dan memperkuat permintaan pasar atas produk-produk kerajinan Asia.


Comments are closed.

Keranjang Belanja

Belanja Anda KOSONG

Kunjungi Produk

Berita dan Artikel

Chat to Us

News Letter

Berlanganan News Letter | update produk wirokuto-batik.com

Google Site Trafic


3
Unique
Visitors
Powered By Google Analytics